Konsep Kepemimpinan dalam Al Quran

KONSEP KEPEMIMPINAN (LEADERSHIP) MENURUT AL QUR`AN

 

Pada dasarnya Al qur`an tidak pernah menyebutkan kata kepemimpinan secara tersirat, karena kata kepemimpinan merupakan istilah dalam manejemen dalam organisasi. Dalam manejemen, kepemimpinan merupakan suatu faktor yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya suatu organisasi. Memang benar organisasi akan berhasil manakala sistem pemodalan berjalan lancar, struktur organisasinya rapi dan berjalan, dan tenaga terampilnya tersedia, tetapi kepemimpinan memegang peranan penting dalam suatu kepemimpinan, suatu organisasi akan berhasil apabila kepemimpinan dipegang oleh orang yang baik dan jujur. Sebaliknya apabila dipegang oleh orang yang dhalim dan berjiwa penghianat, maka kehancuran yang layak ditunggunya. Dengan kata lain kepemimpinan merupakan faktor yang menjadi penentu pada efektivitas dan efisiensi kegiatan organisasi.

Sebutan kepemimpinan muncul ketika seorang memiliki kemampuan dan mengarahkan perilaku orang lain, kepribadian khas, memiliki kecakapan dan sifat-sifat yang khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain. Apabila ciri-ciri tersebut dikaitkan pada mobilisasi massa, maka lahirlah istilah pemimpin massa. Jika dikaitkan dengan organisasi kedinasan pemerintah maka dinamakan jabatanan pimpinan. Jika dikaitkan dengan dengan administrasi maka dinamakan administrator. Begitu juga muncul istilah mursyid untuk organisasi tarekat, kyai untuk pengasuh pesantren dan imam bagi pimpinan shalat. Dan dibidang pemerintahan dan negara, pemimpin banyak menggunakan istilah yang bermacam-macam, diantaranya: imamah (untuk kalangan shi`i), khalifah ( untuk kalangan sunni), juga raja didalam suatu kerajaan dan istilah presiden didalam negara republik.

Meskipun demikian, bukan berarti Al qur`an tidak membicarakan sama sekali masalah kepemimpinan, bahkan Al qur`an banyak menyebutkan masalah kepemimpinan seperti dalan surat Al Baqoroh ayat 30:

øŒÎ)ur tA$s% š•/u‘ Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ’ÎoTÎ) ×@Ïã%y` ’Îû ÇÚö‘F{$# Zpxÿ‹Î=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ߉šøÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡o„ur uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ωôJpt¿2 â¨Ïd‰s)çRur y7s9 ( tA$s% þ’ÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ  

Artinya:  Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”(QR. Al Baqoroh:30)

 Dalam ayat ini disebutkan masalah kepemimpinan manusia pertama yakni Nabi Adam AS, bahkan sebelum beliau diciptakan oleh Allah SWT, dan surat Yunus ayat 14 dan lebih tegas lagi disebutkan dalam surat Al An`am ayat 165. Dan didalam tulisan ini, penulis akan membahas pengertian dan kreteria-kreteria dasar kepemimpinan yang diambil dalam Al Qur`an yaitu amanah, adil dan musyawarah, yang mana kreteria ini harus dimiliki oleh seorang pemimpin agar dapat memimpin rakyatnya dengan baik dan diridlai oleh Allah SWT. A. Pengeritan kepemimpinan (leadership) 

            Kata pemimpin yang di dalam Al Qur`an menggunakan kata khalifah, disebutkan sebanyak 127 kali, dalam 12 kata kejadian. Maknanya berkisar pada kata kerja “menggantikan”, “meninggalkan”, atau kata benda “pengganti”, atau pewaris. Secara terminologis, kata ini mengandung setidaknya dua makna ganda. Di satu pihak, khalifah diartikan sebagai kepala negara dalam pemerintah dan kerajaan Islam masa lalu, yang dalam kontek kerajaan pengertiannya sama dengan sultan. Di lain pihak, khalifah juga berarti dua macam. Pertama, diwujudkan dalam jabatan sultan atau kepala negara. Kedua, fungsi manusia itu sendiri di muka bumi sebagai ciptaan Allah SWT yang sempurna.

            Sehubungan dengan pengertian ini, ulama` sarjana asal pakistan Abul A`la Al-maududi telah mengarang sebuah buku yang berjudul Al-khilafah wa Al-Mulk. Menurutnya, istilah khilafah berasal dari akar kata yang sama dengan khalifah, yang berarti pemerintahan atau kepemimpinan. Khilafah, sebagai turunan dari kata khalifah adalah teori Islam tentang negara dan pemerintah. Guna memperoleh sedikit gambaran tentang pengertian khalifah dalam konteks Al-Qur`an berikut ini diturunkan beberapa ayat dari surat Al-A`raf, Al-An`am dan surat Al Fatiir:

óOçFö6Éftãurr& br& öNä.uä!%y` ֍ò2ό `ÏiB öNä3În/§‘ 4’n?tã 9@ã_u‘ öNä3ZÏiB öNà2u‘É‹ZãŠÏ9 4 (#ÿrãà2øŒ$#ur øŒÎ) öNä3n=yèy_ uä!$xÿn=äz .`ÏB ω÷èt/ ÏQöqs% 8yqçR öNä.yŠ#y—ur ’Îû È,ù=yÜø9$# ZpsÜ)Át/ ( (#ÿrãà2øŒ$$sù uäIw#uä «!$# ÷/ä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè?   

Artinya: Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QR. Al A`raf: 69)

    uqèdur “Ï%©!$# öNà6n=yèy_ y#Í´¯»n=yz ÇÚö‘F{$# yìsùu‘ur öNä3ŸÒ÷èt/ s-öqsù <Ù÷èt/ ;M»y_u‘yŠ öNä.uqè=ö7uŠÏj9 ’Îû !$tB ö/ä38s?#uä 3 ¨bÎ) y7­/u‘ ßìƒÎŽ|  É>$s)Ïèø9$# ¼çm¯RÎ)ur ֑qàÿtós9 7LìÏm§‘    Artinya: Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QR. Al An`am: 165)  Dan ayat pada surat Al-Fatiir Úuqèd “Ï%©!$# ö/ä3n=yèy_ y#Í´¯»n=yz ’Îû ÇÚö‘F{$# 4 `yJsù txÿx. Ïmø‹n=yèsù ¼çnãøÿä. ( Ÿwur ߉ƒÌ“tƒ tûï͍Ïÿ»s3ø9$# öNèdãøÿä. y‰ZÏã öNÍkÍh5u‘ žwÎ) $\Fø)tB ( Ÿwur ߉ƒÌ“tƒ tûï͍Ïÿ»s3ø9$# óOèdãøÿä. žwÎ) #Y‘$|¡yz   Artinya : Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, Maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.(QR. Al Fatiir : 36)Dan dari penjelasan dapat disimpulkan bahwa kata khalifah menurut Al Pada ayat-ayat diatas jelas  Al-Qur`an sudah menjelaskan masalah kepemimpinan dan menjadi dasar akan pentingnya    

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: